Syfa & Ganjar

Sama-Sama Dari Ketan, Ini bedanya Lemper dan Semar Mendem

Ditulis oleh Ganjar

Setiap kali saya membeli jajanan pasar, ada dua makanan yang menurut saya rasanya sangat mirip yaitu lemper dan semar mendem. Keduanya sama-sama terbuat dari ketan, sama-sama memiliki isian, dan ukurannya juga bisanya tidak jauh berbeda.

Yang tampak membedakan keduanya hanya pada pembungkusnya, di mana lemper menggunakan daun pisang sementara semar mendem menggunakan adonan telur dadar. Namun ternyata, selain perbedaan itu, ada beberapa hal yang yang membedakan kedua makanan tersebut Apa sajakah itu?

Asal-Usul

lemper
Lemper
semar mendem
Semar mendem

Lemper dan semar mendem adalah makanan yang sama-sama berasal dari daerah Jawa. Akan tetapi, tidak diketahui secara pasti dari daerah Jawa mana awal mulanya. Ada yang mengatakan dari daerah Yogyakarta dan Solo, dan ada juga yang mengatakan dari daerah lainnya.

Untuk penamaan lemper sendiri, tidak diketahui secara pasti dari mana asal usulnya. Namun ada yang mengatakan jika nama tersebut diambil dari kalimat bahasa Jawa yaitu “yen dilem atimu ojo memper” yang artinya jika kita disanjung jangan sampai menjadi tinggi hati atau sombong.

Sementara itu, semar mendem diambil dari nama salah satu tokoh pewayangan yaitu Semar. Konon, Semar ini adalah sosok yang suka sekali mabuk alias mendem. Nah, ketika sedang mendem, Semar tidak bisa berhenti makan bahkan sampai lupa diri.

Merujuk dari kisah tersebut, penamaan semar mendem ini menunjukan jika makanan ini sangatlah lezat. Maka dari itu, orang yang memakan semar mendem ini akan keenakan sehingga tidak bisa berhenti untuk memakannya.

Bahan dan Cara Pembuatan

tekstur lemper
Lemper tanpa dikukus

Lemper dan semar mendem sama-sama menggunakan beras ketan sebagai bahan utama pembuatannya. Beras ketan tersebut biasanya dimasak dengan menggunakan air santan agar hasilnya menjadi lebih lembut dan juga gurih.

Setelah matang, nasi ketan akan diberikan isian lalu digulung. Pada awalnya, lemper dibuat dengan isian gebingan atau serundeng. Namun kini, baik lemper ataupun semar mendem sudah menggunakan isian yang lebih variatif seperti abon, daging ayam suwir, daging sapi, bahkan hingga rendang.

Setelah digulung, lemper akan dibungkus dengan daun pisang dan ditusuk kedua sisinya dengan menggunakan lidi agar daun pisangnya tidak terbuka. Selanjutnya, lemper tersebut akan dikukus sampai daun pisangnya layu dan berubah warna menjadi kecoklatan.

Selain dikukus, saat ini juga sudah banyak lemper yang dibakar sehingga daun pisangnya menjadi tampak gosong dan kehitaman. Bahkan untuk mempersingkat waktu, saat ini banyak juga lemper yang langsung disajikan setelah dibungkus daun pisang tanpa dikukus atau dibakar lagi.

lemper bakar
Lemper bakar

Bagaimana dengan semar mendem? Nah, untuk semar mendem, setelah digulung dan diberi isian, makanan tersebut akan dibungkus dengan menggunakan adonan yang mirip dengan telur dadar. Setelah itu, semar mendem sudah bisa langsung disajikan.

Meskipun mirip seperti telur dadar, namun pembungkusnya ini bukan benar-benar telur dadar. Pembungkusnya ini dibuat dengan adonan telur, tepung terigu, dan tepung maizena. Adonan tersebut kemudian dibentuk menjadi lembaran dengan proses yang mirip seperti pembuatan lembaran crepes.

Tampilan dan Rasa

lemper ayam
Lemper isi ayam
lemper rendang
Lemper isi rendang

Lemper memiliki tampilan yang berbeda-beda tergantung dari proses finishing akhirnya. Untuk lemper yang dikukus, warna daun pisangnya akan kecoklatan, sedangkan untuk lemper yang dibakar warna daun pisangnya biasanya masih hijau namun memiliki bagian yang gosong dan menghitam.

Sementara itu, untuk lemper yang tidak dikukus dan dibakar, daun pisangnya tetap berwarna hijau namun akan diberi lapisan pembungkus lain seperti kertas atau plastik. Jenis lemper seperti inilah yang sekarang paling sering saya temukan di penjual jajanan pasar seperti Sari-Sari di Bandung.

Untuk rasanya sendiri, saya merasa tidak ada perbedaan rasa yang signifikan antara ketiga proses finishing tersebut. Ketiganya tetap memiliki ketan dengan tekstur yang lengket dan rasa yang gurih. Yang membedakan mungkin hanya pada isiannya saja.

Di sisi lain, semar mendem memiliki tampilan yang cukup mencolok dengan warna kuningnya yang mirip dengan telur dadar. Sekilas mungkin agak mirip dengan kue dadar gulung terutama jika pembungkusnya diberi warna hijau atau warna selain kuning telur dadar lainnya.

tekstur semar mendem
Semar mendem isi ayam

Untuk rasanya sendiri sangat mirip dengan lemper, terutama pada bagian ketan dan isinya. Namun adonan pembungkusnya inilah yang benar-benar membuat rasa semar mendem ini semakin kaya karena kita seperti memakan ketan, isian, dan telur dadar dalam satu suapan.

Nah itulah beberapa perbedaan yang bisa saya jelaskan mengenai lemper dan semar mendem ini. Jadi, keduanya memang dibuat dengan bahan dan proses yang sama, namun bahan untuk membungkusnya lah yang berbeda. Kira-kira, kamu lebih suka lemper atau semar mendem?

Kategori:
Jika kamu ingin bertanya mengenai tempat yang pernah kami kunjungi, silakan tanyakan kepada kami di kolom komentar atau di Instagram @syfaganjarstory. Kami akan dengan senang hati menjawabnya ~
CERITA TERKAIT
TENTANG SYFA & GANJAR
Kami adalah pasangan suami istri yang sangat menyukai travelling dan kuliner. Di blog ini kami akan berbagi cerita mengenai perjalanan kami ketika mengunjungi berbagai tempat wisata serta mencicipi kelezatan dari berbagai jenis kuliner.

Selengkapnya tentang Syfa & Ganjar →
KOMENTAR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Syfa & Ganjar
cross