Syfa & Ganjar

Melihat Karya dari Seniman-Seniman Terbaik di National Gallery Singapore

Ditulis oleh Syfa

Ketika suami bikin itinerary liburan di Singapura, dia nanya saya mau ke mana aja pas di sana. Tentu saja saya jawab dengan lantang pengen ke National Museum of Singapore dan National Gallery Singapore.

Saya dan suami sama-sama suka sama hal-hal yang berbau sejarah, dan sama-sama kurang suka keramaian. Jadi pergi ke museum atau galeri seni dirasa sebagai pilihan yang tepat.

Dan tentu saja ini juga permintaan saya ke suami sebagai hadiah ulang tahun hehehe. Dari dulu saya selalu pengen ngunjungin galeri ini kalau ke Singapura. Alhamdulillah suami bantu wujudkan. Nah, di artikel ini saya mau bagikan cerita kami berdua saat mengunjungi galeri terbesar di Singapura ini.

Lokasi

National Gallery Singapore

National Gallery Singapore ini ada di 1 St Andrew's Rd, Singapore 178957. Pengunjung yang mau ke sini bisa pakai bus, MRT, dan taxi. Berhubung saya dan suami menginap di hotel yang dekat sekali sama stasiun, jadi kami pun pergi ke sana pakai MRT.

Ada tiga stasiun MRT terdekat yang bisa mengantar pengunjung ke sini—City Hall (EW13/NS25), Clarke Quay (NE5), dan Raffles Place (EW14/NS26). Untuk teman-teman pembaca yang mau ke sini pakai bus atau taxi, silakan cek di sini ya.

Oh iya, saya dan suami masuk ke sini lewat pintu Padang Atrium, deket banget sama tempat konsernya band-band kalau lagi ngisi acara F1. Akses pintu masuk itu bisa dari Coleman Street entrance dan Padang Atrium Entrance. Silakan akses di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang access guide di galeri ini.

Harga Tiket Masuk

visitor admission
tempat tiket ada di dekat screen guide yang kotak itu
big screen box
Screen guide

Harga tiket masuk ke National Gallery Singapore ini cukup bervariasi, tergantung tipe tiket yang dipilih. Ada 3 macam tiket yang ditawarkan, yaitu General Admission (SGD 20), Special Exhibition (SGD 25), dan All Access Pass (SGD 30). Saya dan suami pilih yang General Admission saja karena baru pertama kali juga, pengen liat aja dulu ada apa aja.

Oh iya, itu harga tiket standar ya karena untuk anak-anak (7-12 tahun), lansia (60 tahun ke atas), dan locals itu harganya lebih murah. Sebetulnya calon pengunjung bisa beli tiket langsung di situs resminya. Tapi saya dan suami beli lewat Traveloka aja supaya lebih mudah dan gak harus bayar pake CC dan lain-lain.

Harga tiket di traveloka pada saat kami beli itu Rp 127.700, karena kalau harga hari ini atau bulan depan mungkin aja beda. Total dua tiket Rp 255.400 ditambah biaya layanan jadi Rp 257.699.

Galeri ini buka dari hari Senin sampai Minggu jam 10.00 sampai 19.00 waktu setempat. Pembelian dan penukaran tiket berakhir 30 menit sebelum galerinya tutup. Saya saranin ke sini pas waktunya buka aja biar suasananya masih enak dan punya banyak waktu buat eksplor.

Tentang National Gallery of Singapore

city hall wing

National Gallery of Singapore ini dulunya bekas gedung Mahkamah Agung dan Balai kota yang selesai dibangun pada tahun 1939. Jika digabungkan, luas bangunannya mencapai 64.000 meter persegi dengan penyimpanan maha karya yang jumlahnya lebih dari 8.000.

Itulah kenapa galeri ini menjadi galeri seni sekaligus museum terbesar di Singapura. Saya sendiri sangat terkesan ketika membaca sejarah tentang bagaimana akhirnya gedung ini terbuka untuk umum dan menjadi salah satu museum seni yang paling banyak dikunjungi di dunia.

Dengan membeli satu tiket jenis General Admission, pengunjung sudah bisa menikmati 6 gallery—DBS Singapore Gallery, UOB Southeast Asia Gallery, Level 4 Gallery, Wu Guanzhong Gallery, The Ngee Ann Kongsi Concourse Gallery, Koh Seow Chuan Concourse Gallery, City Hall Chamber, Chief Justice’s Chamber & Office.

National Gallery of Singapore ini gede banget. Satu hari udah pasti gak cukup buat eksplor semua yang ada di galeri ini. Jadi kita hanya berkunjung ke pameran dan beberapa gallery yang tentunya semua isinya menarik! Mau tau apa aja yang kami kunjungi? Stay tuned ya!

Exhibitions

Exhibition 1
NOTHING IS FOREVER: RETHINKING SCULPTURE IN SINGAPORE

Nah, ini adalah beberapa pameran sculpture yang dipajang di National Gallery of Singapore, tepatnya di The Ngee Ann Kongsi Concourse Gallery, Level B1, City Hall Wing. Jadi gak jauh dari tempat penukaran tiket saat kita masuk.

Mengusung tema NOTHING IS FOREVER: RETHINKING SCULPTURE IN SINGAPORE, maha karya yang dipajang di sini berjumlah lebih dari 70 karya. Namun, yang unik di sini adalah setiap pameran itu dikasih tau periodenya.

Kita ambil contoh pameran ini, salah satu patung di sini hanya akan dipajang dari tanggal 29 Juli 2022 - 05 Feb 2023. Jadi nanti setelah periodenya habis, akan diganti dengan karya-karya baru. Saya pribadi sih ngeliatnya ini unik soalnya di museum lain kan biasanya satu karya akan dipajang terus-terusan di tempat yang sama.

Entrepeneur by Vincent Hoisington
Entrepeneur by Vincent Hoisington
Exhibition National Gallery
‘Cloud of ’68’ (1971, remade 2022) karya Tang Da Wu

Dengan cara ini, pengunjung akan terus tertarik untuk dateng soalnya mereka tau beberapa bulan nanti akan banyak karya-karya baru yang bisa dilihat.

Exhibition Gallery
'New Era' karya Lim Leong Seng, plastic bags, rubber bands and air.

Children's Biennale

Children's Biennale
Children's Bieannale

Pameran selanjutnya adalah Children's Biennale. Posisi Children's Biennale ini ada di Supreme Court Wing, Level B1, Koh Seow Chuan Concourse Gallery. Ini sangat mudah ditemukan karena masih ada di area lantai 1 pintu masuk Padang Atrium.

Seperti namanya, Children's Biennale ini adalah pameran yang diciptakan untuk anak-anak. Dengan tema "Why Art Matters", galeri ini memiliki sembilan jenis aktivitas yang sangat menyenangkan dan interaktif! Apa aja tuh? Ada Head/Home, Voices from The Centers, A Day's Book, dan lain-lain.

Pameran ini dibuat untuk menavigasi perubahan zaman dengan cara menumbuhkan empati dan kepercayaan diri anak-anak melalui aktivitas yang interaktif tersebut.

Saya dan suami kagum banget soalnya National Gallery of Singapore ini bener-bener memberikan pengalaman terbaik dan gak tanggung-tanggung buat visitornya. Dua dari sembilan galeri yang kami kunjungi adalah Voices from The Centers dan Head/Home.

Voices from The Centers

Voices from The Centers
Voices from The Centers

Voices from The Centers ini dicetuskan oleh DINH Q.LÊ, seniman multimedia asal Vietnam. Konsep galeri ini sebetulnya terinspirasi dari aplikasi TikTok di mana orang-orang bisa mengekspresikan diri dengan cara nyanyi, joget atau bicara depan kamera.

Choose the artwork
Pilih artwork nya

Jadi, anak-anak diajak untuk memilih koleksi artwork apa aja yang ada di National Gallery yang tertera di layar. Nah, setelah pilih artwork-nya, anak-anak boleh eksplor diri di depan kamera ala TikTok kaya nyanyi, joget, dan lain-lain.

Download video
Unduh hasil videonya

Nah, output dari joget-joget tadi itu adalah video dengan durasi 60 detik. Kita bisa liat hasil videonya dengan cara scan barcode yang muncul, terus unduh manual dari handphone. Seru banget! Dengan kaya gini, anak-anak diajarin cara menghargai artwork yang ada dengan cara yang gak membosankan.

Head/Home

Head or Home
Head/Home

Head/Home ini dicetuskan oleh seniman asal Filipina yaitu Alfredo & Isabel Aquilizan. Galeri ini berkonsep kota terapung online yang dibuat untuk mengajak anak-anak berimajinasi dan mengekspresikan ide mereka tentang rumah.

Anak-anak membuat 'rumahnya' dari kardus dan bahan lain yang ditemukan di kehidupan sehari-hari. Terus hasilnya dipajang semua di sini. Keren!

Head or Home Artwork
Artwork anak-anak

UOB Southeast Asia Gallery

Between Declarations and Dreams Exhibition
Between Declarations and Dreams

Nah ini dia salah satu galeri yang bikin saya super excited! Judul pameran di galeri ini adalah Between Declarations and Dreams: Art of Southeast Asia since the 19th Century. Yang bikin lebih kaget lagi ternyata Between Declarations and Dreams ini diambil dari puisi Karawang-Bekasi nya Chairil Anwar yang berbunyi "....berjalagalah terus di garis pernyataan dan impian".

Konon line di puisi tersebut merangkum pengalaman banyak seniman di Indonesia yang terjebak di antara pernyataan dan impian, pribadi dan politik saat meratapi pembantaian penduduk desa di Jawa Barat oleh pasukan kolonial Belanda.

Pameran ini ada di gedung Supreme Court Wing, Gallery 1-14, yang menyimpan lebih dari 300 karya seni artistik dari seluruh Asia Tenggara.

Supreme Court Building

Berhubung tema besarnya adalah Art of Southeast Asia since the 19th Century, cerita-cerita yang digambarkan dalam karya-karya ini mencakup kolonialisme, perantauan, perjuangan nasionalis serta isu-isu politik dan budaya pada zaman itu.

Forest Fire (Boschbrand) by Raden Saleh
Forest Fire (Boschbrand) karya Raden Saleh

Salah satunya adalah lukisan karya Raden Saleh yang judulnya Forest Fire atau Boschbrand. Lukisan karya seniman yang bernama asli Saleh Sjarif Boestaman ini menggambarkan binatang-binatang buas yang dikejar api hingga ke jurang.

Terlihat satu harimau yang menunjukkan kemarahan, seekor kerbau yang berlari hingga menyeret harimau dan kerbau lain ke dalam jurang tersebut. Banyak ahli mengatakan kalau karya ini bisa diinterpretasikan dari berbagai sudut pandang. Salah satunya adalah penggambaran hidup manusia yang sangat ganas.

Meski digambarkan dalam latar Jawa Barat, Raden Saleh sudah tinggal di Eropa selama 20 tahun pada saat membuat karya ini. Lukisan ini kemudian beliau hadiahkan untuk King Willem III of the Netherlands pada tahun 1850 dan menjadi lukisan terbesar yang pernah ia buat.

Flight to Freedom by Pacita Abad
Flight to Freedom karya Pacita Abad

Nah, kita pindah sedikit, ini adalah lukisan karya Pacita Abad yang lahir pada tahun 1946 di Filipina. Lukisan ini menggambarkan para pengungsi dari negara Kamboja yang menjadi korban di peperangan antara Vietnam dan the Khmer Rouge (1978-1989).

Pacita Abad datang langsung ke tempat pengungsian orang-orang ini di perbatasan Thailand dan Kamboja. Ia melihat dan mengumpulkan langsung pengalaman-pengalaman para korban.

Cerita tersebut menghasilkan karya yang menggambarkan penyiksaan, tunawisma, kemiskinan dan penderitaan para pengungsi yang harus menanggung kondisi sulit dan kacau di zaman itu.

Bedroom of Mother and Her Child by Jim Supangkat
Kamar Ibu dan Anak karya Jim Supangkat

Yang ini adalah Kamar Ibu dan Anak karya Jim Supangkat dari Indonesia. Karya ini menggabungkan perabotan dan benda-benda rumah tangga serta anggota tubuh yang terputus dari Manekin. Supangkat ingin menyoroti bahwa isu-isu politik di Indonesia pada saat itu telah menyusup bahkan ke ruang yang paling intim—kamar tidur.

Naah, itu dia cerita jalan-jalan saya dan suami saat mengunjungi galeri seni terbesar di Singapura ini. Dengan harga tiket mulai dari 100 ribuan saja, menurut saya ini pengalaman yang wajib buat dicoba. Saya udah pasti mau ke sini lagi karena masih banyak pameran yang belum didatengin.

Saya harap pembaca di sini enjoy dengan cerita yang kami buat. Tertarik untuk dateng ke tempat wisata edukatif juga gak? Kasih tau pengalaman kalian di kolom komentar ya. Sampai ketemu di artikel jalan-jalan selanjutnya!

Jika kamu ingin bertanya mengenai tempat yang pernah kami kunjungi, silakan tanyakan kepada kami di kolom komentar atau di Instagram @syfaganjarstory. Kami akan dengan senang hati menjawabnya ~
CERITA TERKAIT
TENTANG SYFA & GANJAR
Kami adalah pasangan suami istri yang sangat menyukai travelling dan kuliner. Di blog ini kami akan berbagi cerita mengenai perjalanan kami ketika mengunjungi berbagai tempat wisata serta mencicipi kelezatan dari berbagai jenis kuliner.

Selengkapnya tentang Syfa & Ganjar →
KOMENTAR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Syfa & Ganjar
English Version
cross