
Setelah dinanti sejak proyek ini pertama kali diumumkan pada 2009, Circle Line (CCL) Singapura akhirnya benar-benar menjadi sebuah lingkaran penuh. Pada 12 Juli 2026, tiga stasiun baru yaitu Keppel, Cantonment, dan Prince Edward Road resmi mulai melayani penumpang, menyambungkan segmen terakhir antara HarbourFront dan Marina Bay yang selama ini masih terputus.
Dengan tersambungnya segmen sepanjang sekitar 4 kilometer ini, Circle Line kini terdiri dari 33 stasiun dengan panjang total 39 kilometer, termasuk 12 titik interchange ke seluruh jalur MRT lain di Singapura.
Land Transport Authority (LTA) menyebutkan bahwa penumpang dari Telok Blangah menuju Marina Bay kini bisa langsung naik satu kereta tanpa perlu berpindah jalur, dan perjalanan ini diperkirakan menghemat waktu sekitar 10 menit dibanding rute sebelumnya.
Sebelum resmi beroperasi, LTA lebih dulu membuka pratinjau publik untuk ketiga stasiun baru ini pada 4 Juli 2026, sehingga warga bisa mencoba suasana stasiun sebelum layanan penuh dimulai seminggu kemudian.
Tiga stasiun baru ini juga sengaja dirancang dengan tema arsitektur dan karya seni yang berbeda-beda, jadi bukan sekadar tempat naik turun kereta. Kalau kamu penasaran, berikut beberapa hal menarik yang bisa kamu temukan di masing-masing stasiun.
Keppel mengusung tema lanskap hijau yang cukup mencolok, lengkap dengan atap bergelombang dan kolom-kolom menyerupai pohon sehingga suasananya terasa alami meski berada di bawah tanah.
Di dalam stasiun, ada mural karya arsitek Kenneth Koh berjudul "Uncontainable Dreams" yang menggambarkan sejarah kawasan Keppel Harbour sebagai pusat perdagangan, mulai dari masa masih berupa hutan bakau hingga menjadi kawasan penyimpanan batu bara, lengkap dengan ilustrasi peti kemas.
Ada pula sejumlah patung hewan langka seperti gajah India dan badak hitam sebagai bagian dari instalasi seninya.

Cantonment punya nilai historis yang cukup kental karena posisinya tepat di bawah bekas Stasiun Kereta Tanjong Pagar yang merupakan monumen nasional. Desain interiornya sengaja menghadirkan elemen dari stasiun kereta lama tersebut, termasuk dinding hijau dan atap yang meniru struktur atap hijau stasiun aslinya.
Di area peron, kamu bisa melihat langit-langit melengkung setinggi tiga lantai dengan 24 mural kaca patri yang terinspirasi dari desain stasiun lama, sementara di bagian lain terdapat jam analog besar yang menandai posisi stasiun-stasiun interchange di sepanjang Circle Line.
Ada juga karya seni instalasi "A Journey Between" karya seniman peraih Cultural Medallion, Han Sai Por, yang membentang sepanjang 75 meter di area concourse. Stasiun ini juga terhubung langsung dengan Singapore Art Museum di Tanjong Pagar Distripark serta rencana revitalisasi bangunan Stasiun Tanjong Pagar Railway di masa depan.
Prince Edward Road mengangkat tema kelautan yang cukup unik, terlihat dari desain passenger service centre yang dibuat menyerupai lambung kapal kayu, lengkap dengan panel langit-langit bergelombang yang meniru riak ombak laut.
Uniknya lagi, peron di stasiun ini disusun bertingkat layaknya struktur kapal, berbeda dari dua stasiun lain yang peronnya saling berhadapan.
Di area underpass menuju pintu keluar, kamu bisa menjumpai karya seni "Doppler" oleh Gerald Leow, berupa fragmen baja tahan karat yang dipanaskan dengan suhu berbeda-beda sehingga warnanya tampak berubah-ubah tergantung sudut pandang dan posisi kamu saat berjalan melewatinya.
Ketiga stasiun ini juga sama-sama mengusung desain ramah lingkungan dan aksesibel, mulai dari akses bebas hambatan, lift dan eskalator, sistem panduan taktil bagi tunanetra, pencahayaan hemat energi dengan sensor gerak, sampai fasilitas parkir sepeda dan jalur pejalan kaki beratap yang mendukung mobilitas berkelanjutan.


